Selasa

Sial Majal

Image: Detik.com

“Lepas jaket, serahkan motor lu!”
“Sila ambil motor saya, tapi jaket jangan … saya mohon!”
“Banyak bacot lu! Turuuun!”
Hembusan angin malam tak cukup mampu meredam ketegangan. Sebuah dorongan menghempas tubuh kurus laki-laki paruh baya dari motor bebek miliknya, bersama sorot tajam empat pasang mata, bagai serigala lapar hendak menerkam.

Kamis

HOAX?

Image Google
“Seorang pedagang pasar Klonyor mengamuk, lalu membakar barang dagangannya.”
Begitu bunyi pesan broadcast yang beredar di media sosial. Pesan tersebut menyebar begitu cepat dari akun ke akun hingga memicu kepanikan luar biasa di kalangan para pedagang.
Mbok Inah, pedagang beras di pasar Klonyor kejang-kejang hingga pingsan saat mendapat kabar dari anak bungsunya tentang pasar Klonyor yang terbakar. Pun begitu pak Sutoyo, juragan sembako itu terengah-engah lunglai, usai menerima informasi tentang pasar Klonyor dari tetangganya yang aktif di media sosial. Beda lagi dengan pak Rahmat, pedagang pakaian itu tiba-tiba meracau tak karuan sebab memikirkan hutang atas barang pesanannya yang baru datang tadi sore. Pak Warsidi lebih parah, ia nekad menenggak cairan pembasmi serangga dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.


Minggu

Korenah VI

Image Google

Iklan
Pulang sekolah, Andri selonjoran di ruang tengah sambil menonton televisi. Saat lagi asyik menonton, Andri dikagetkan oleh suara panggilan mak Ratna yang tengah memasak di dapur.
“Le!”
“Iya, Mak.”
“Kamu lagi apa?”
“Nonton tipi.”
“Nanti kalau udah iklan, tolong beliin mak kecap ke warung depan.”
“Iya, Mak.”

Rabu

GANDORIAH

Antara Image

Debur ombak memecah buih di atas pasir pantai Gandoriah. Hembusan angin ditingkahi kepak sayap camar menari-nari pada alunan riak. Bersama kemilau jingga memeluk samudra, mentari tersipu menyongsong malam dari balik pulau Angsa Dua. Dalam kepingan senja nan teduh, pada ujung tumpukan batu pemecah ombak yang menjorok ke laut, Meta seorang perempuan muda duduk terpaku menikmati senja, ia melayangkan pandang ke tengah lautan, rambutnya yang panjang bersibak diterpa angin, kedua tangannya menggenggam erat buku harian bewarna merah muda. 
“Aku bukan Puti Gandoriah dan kamu bukan Anggun Nan Tongga, tapi … kenapa harus kita?” ucapnya lirih.
Perlahan Meta membuka buku harian.