Kamis

Pura Pura Dalam Perahu


Waktu sekolah saya pernah pura-pura sakit, sehingga Ibu guru pura-pura memberi saya makanan dan pura-pura menyuruh saya pulang lebih awal. Setelah sampai di rumah, Ibu saya tahu kalau saya hanya pura-pura dan akhirnya ibu sayapun jadi pura-pura marah.

Menurut saya perilaku pura-pura dalam konteks kehidupan yang nyata, untuk suatu hal yang serius, sama dengan tidak sejati. Berpura-pura dengan membohongi, mengelabui orang lain karena kepentingan atau untuk tujuan yang tidak baik demi keuntungan diri sendiri maupun golongan, sangat jelas itu merupakan sebuah kesalahan dan bahkan bisa masuk dalam kategori tindak kejahatan bila ada orang lain yang dirugikan karenanya. 


Apakah semua perilaku pura-pura atau berbohong itu salah? Tidak. Terkadang adakalanya di berbagai hal dalam kehidupan kita harus berbohong atau berpura-pura untuk sebuah kebaikan. Misalnya, untuk menyelamatkan nyawa orang lain yang sedang terancam atau demi menjaga perasaan orang lain agar tidak tersakiti, dsb, dengan catatan! Pura-pura dan kebohongan yang kita lakukan tersebut memiliki point kebaikan yang jauh lebih besar dari keburukan yang akan terjadi seandainya kita berkata jujur. 

Secara garis besar di dalam kehidupan, berpura-pura dan melakukan kebohongan itu memiliki ruang yang sangat mungkin mendatangkan efek negative terhadap pencitraan seseorang, terutama saat kebohongan itu diketahui oleh orang lain. Efek yang paling mendasar adalah menipisnya raya percaya.  

Seperti yang pernah saya alami beberapa bulan yang lalu. Saya melakukan kebohongan atau berpura-pura dalam konteks bercanda kepada seseorang, sebut saja namanya Joni (bukan nama sebenarnya) Ia bekerja di toko milik kakak saya. 

Seperti biasanya, seminggu sekali saya suka mampir ke toko milik kakak saya untuk silatuhrahmi. Singkat cerita, setelah makan siang, saya disuruh si kakak untuk memasangkan pesawat telepon baru di toko miliknya. Karena pesawat teleponnya yang lama telah rusak. Setelah terpasang, untuk memastikan pesawat telepon tersebut telah berfungsi dengan baik, saya coba melakukan panggilan dengan handphone butut milik saya.

Proses pemasangan berjalan dengan semestinya dan pesawat telepon yang baru saya pasangpun berdering. Si Joni yang duduk berjarak sekitar tiga meter di belakang saya, secara spontan bertanya saat saya mengangkat gagang telopon yang berdering, “siapa yang nelpon bang?” Tanya si Joni. Mungkin karena saya salah satu biang keroknya tukang jail, dengan entengnya saya pura-pura bicara seolah ada lawan bicara di ujung telepon. 

Percakapan bohongan: Iya pak, saya adiknya si abang. Oh, Joni ada, bapak mau bicara sama Joni? eh, bapak bapaknya Joni? maaf ya pak, ini ada si Joni! Jon ada telpon dari bapak kamu .

Dan Joni pun bergegas menghampiri saya yang menyodorkan gagang telepon kepadanya, “hallo hallo hallo” karena tidak ada jawaban dari ujung telpon, Joni pun menoleh ke arah wajah saya, saya spontan tertawa dan rekan karjanya yang lain pun ikut tertawa, “sial saya dikerjain si abang” umpet si Joni sambari nyengir. 

Seminggu setelah itu saya mampir lagi ke toko  si kakak. Waktu saya datang kakak saya lagi di toilet. Saya langsung masuk dan duduk di bangku dekat meja kasir. Sesaat setelah saya duduk, pesawat telepon yang berada di atas meja berbunyi, kring kring langsung saya angkat, saya mendengar dari ujung telepon seperti suara bapak-bapak. 

Hanya sedikit percakapan dan si bapak yang berada di ujung telepon tersebut menanyakan si Joni, (yang menelpon tersebut adalah bapaknya Joni). Saya langsung memanggil si Joni yang berdiri tidak begitu jauh dari tempat duduk saya, "Jon ada telepon untuk kamu!" dia nanya "dari siapa?" Saya jawab, "dari bapak kamu," tetapi dia tidak percaya. Waduh, saya berusaha meyakinkan si Joni bahwa yang menelpon itu benaran bapaknya, namun ia tetap tidak percaya, sambil berkata, "saya tidak bisa dibohongin untuk yang kedua kalinya"  

Saya mulai merasa nggak enak dengan bapaknya si Joni yang harus menunggu cukup lama. Saya berinisiatif memberikan telepon kekaryawan kakak saya yang lain agar si Joni percaya, tetapi ia tetap tidak percaya. Sampai akhirnya kakak saya kembali dari toilet dan dialah yang meyakinkan si Joni bahwasanya yang menelepon tersebut benar-benar bapaknya.

Dari cerita di atas yang bisa saya simpulkan adalah berpura-pura atau berbohong dalam kontek bercanda sekalipun memiliki ruang terhadap kemungkinan hadirnya efek tidak baik. 

Jadi, semua kembali kepada tujuan kita ketika berperilaku pura-pura atau berbohong tersebut. Jika untuk tujuan yang baik tanpa ada orang yang dirugikan, saya rasa sah-sah saja. Termasuk juga dalam hal candaan, asalkan tidak melampaui batas kewajaran. Di balik semua yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, tetap siapkan diri untuk sebuah kemungkinan yang tidak terduga.  

Apakah sobat pernah berpura-pura atau berbohong?

5 komentar:

  1. saya pernah pura-pura sakit ketika membayangkan bahwa pekerjaan di kantor tidak bisa saya selesaikan di kantor karena pasti bakal riweh, jadi saya putuskan mengerjakan semua dirumah tapi dengan dalih sakit...

    BalasHapus
  2. Dulu waktu SMP aku sering bohong sakit kalo disuruh mama jaga kios mas, tapi makin kemari akunya malah beneran jadi sering sakit-sakitan. Hahaha kualat kali ya Mr :p

    BalasHapus
  3. Mas Goiq: Strategi yg jitu, tapi ga sampai sakit benaran kan? :D

    Mba Chici: Jiahhahhaa, kebiasaan ga sehat jd berimbas pada kesehatan ya (kualat mungkin ga, tp lg apes aja kali ya).:D

    BalasHapus
  4. "Pura-pura" hihi, jadi kalimat andalan emak klo nawarin makanan, pura-pura ga mau pura-pura kurang suka, padahal kurang banyak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dasar tukang makan.:D

      Hapus